Kartun keluaran TVOne yang muncul di setiap berita di stasiun TVOne, BangOne selalu muncul membawa kritikan segar. Siang ini (22/5), BangOne membawa teme “Tragedi Subsidi”. Dalam edisi ini digambarkan tokoh SBY-JK mengendarai sebuah perahu yang bertulisakan “Pemerintah”, sementara di seberang perahu tersebut terdapat perahu “Rakyat”. Perahu “pemerintah” ditimpa dengan jatuhnya “karung” yang bertulis “subsidi” (entah subsidi apa saja yang digambarkan, tapi yang terlihat sangat jelas adalah Subsidi BBM). Tidak mau perahunya tenggelam, salah satu tokoh di perahu “pemerintah” yakni yang digambarkan sebagai JK melemparkan “karung-karung” tersebut ke perahu “rakyat”. Apa yang terjadi? Pastilah, perahu “rakyat” semakin berat, sehingga berpotensi untuk tenggelam.
Ketika kondisi tersebut terjadi, rakyat berteriak “minta tolong” agar perahunya tak tenggelam. Lagi-lagi, tokoh yang digambarkan sebagai JK mengambil sebuah alat dari perahu “pemerintah”. Alat itu adalah pelampung yang kira-kira digambarkan sebagai “Bantuan Tunai Langsung (BLT)”. Apakah selesai tragedi tersebut? Tenyata TIDAK. Pelempar “pelampung” tersebut melemparkannya tidak tepat sasaran, sehingga pelampung yang seharusnya bisa di tangkap penumpang perahu “rakyat” malah jatuh ke samudera. Rakyatpun berebut untuk mendapatkannya dengan sudah payah, apalagi jumlah pelampung tersebut tidak sebanding dengan jumlah penumpang perahu “rakyat”.
Itulah gambaran kritik BangOne yang terlontar dan aku lihat siang hari ini. Sebuah gambaran realita masyarakat menyambut kenaikan harga BBM, yang rencananya akan dilakukan beberapa hari mendatang. Ya. Kenaikan harga BBM. Itulah pangkal dari ketidak-stabilan kondisi masyarakat akhir-akhir ini. Betapa tidak. BBM saat ini sudah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Sehingga kenaikan harganya akan memicu kenaikan bahan-bahan lainnya.
Pemerintah melalui menteri keuangan tadi malam (21/5) sudah mengumumkan, akan tetap menaikkan harga BBM. Angka kenaikannya pun sudah pasti, yakni 28,7 %. Dari angka tersebut, beberapa media sudah memprediksi berapa kenaikan yang akan terjadi. TVOne misalnya, predikasi kenaikan harga premium dari 4500 menjadi 5800. Sedangkan untuk solar dan minyak tanah, yang semula 4300 dan 2000 akan naik menjadi 5400 dan 2500 (satuan dalam rupiah).
Khusus untuk minyak tanah. Harga patokan pemerintah yang selama ini 2000, itu tidak sesuai dengan harga yang ada di tingkat pengecer. Kemarin pagi (21/5), aku membeli minyak tanah di pengecer harganya mencapai 3300. Bagiku dan teman-teman sekos-kosan harga tersebut tidaklah begitu masalah, kalau barangnya ada. Yang menjadi masalah selama ini, minyak tanah sudah jarang di pasaran. Ini terjadi setelah adanya program konversi. Bisa dibayangkan, berapa nantinya harga minyak tanah, jika harga dasar dari pemerintah saja 2000? Sekarang saja yang 2000, di pasaran sudah menjadi 3000 sampai 4000. Padahal selama ini pengkonsumsi terbesar minyak tanah bersubsidi adalah rakyat miskin.
Dalih pemerintah menaikkan harga BBM adalah meringankan APBN, dari subsidi yang kata JK lebih banyak dinikmati golongan kaya. Tapi apakah ini adalah solusi terbaik? Tidak adakah usaha pemerintah mencari jalan lain? ukankah negeri ini juga dikenal sebagai negeri dengan kilang minyak yang cukup besar? Kalo negeri kaya minyak, harga minyaknya tinggi. Terus yang salah ini dimana? Apakah kilang-kilang tersebut bukan milik Indonesia? Kalau bukan milik Indonesia, lantas milik siapa? Atau mungkin, itu memang benar milik Indonesia tapi kita tidak bisa mengolahnya?
Logika yang coba aku gunakan. Indonesia ini negeri “minyak”, semestinya kita tidak perlu keluar banyak uang untuk membeli minyak. Dalam APBN cukup menganggarkan untuk proses produksinya saja. Bahkan kalau harga minyak tinggi, mestinya kita juga untung, kalao sampai kita bisa mengekspor minyak. Selama ini aku hanya mendengar, kalau kebanyakan kilang-kilang minyak di Indonesia ini bukan milik Indonesia. Lho, lantas itu punya siapa? Bukannya penjajahan sudah dihapuskan? Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan (Pembukaan UUD ‘45). Kok kita masih dijajah? Ayo kita rebut kembali kilang-kilang tersebut. Kalau SDM kita belum bisa mengolah, kita kan bisa menyewa tenaga asing untuk mengolahnya. Itu kan lebih murah dari pada kita haru menjual minyak mentah dengan harga murah dan kita membelinya lagi ketika sudah jadi dengan harga yang tinggi.
Di tengah semangat seabad kebangkitan nasional ini, rasanya rakyat dibuat tidak berdaya lagi. Persis dengan kondisi 100 tahun yang lalu. Kalau 100 tahun lalu, rakyat memikirkan kondisi daerahnya masing-masing, disamping memikirkan kehidupannya ditengah penjajahan kolonial Belanda. Lha kalau sekarang, rakyat dibuat pusing memikirkan dirinya sendiri agar bisa bertahan hidup. Ini lebih perah dari 100 tahun yang lalu. Kalau dulu, rasa persatuan dan kesatuan masih ada, tapi hanya kedaerahan. Kalau sekarang, itu sudah musnah. Orang saling sikat dan saling sikut agar bisa mendapat makan.
Dengan tulisanku ini, aku berharap pada pemerintah “TOLONG JANGAN NAIKKAN HARGA BBM LAGI!“. Itu saja yang ku harapkan. Harapan yang lain menyusul. Tapi, bagiku hari ini yang paling urgen adalah itu. Jangan sampai persatuan dan kesatuan bangsa semakin tambah terpecah. Kondisi rakyat juga semakin terjepit. Hampir seminggu lebih media diisi dengan pemberitaan aksi unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM dan penolakan BLT. Ini dilakukan sebagai tindakan terakhir untuk menolak kebijakan ini. Bangsa ini sudah sengsara, masak mau dibuat tambah sengsara?
-
1
Pingback on Mei 24th, 2008 at 10:24 am
[...] di weblain. Di tulisan ini aku hanya ingin menyampaikan, kalau apa yang tak tulis kemaren “BangOne: Tragedi Subsidi” bener-bener akan [...]
Blogger Empunya Toserblog ini bernama MQ Hidayat. Dia lahirnya di salah satu sudut desa di Mojokerto, 23 tahun yang lalu. Saat ini, dia tinggal di Malang.













23 Mei 2008 at 1:29 pm
kalo ga mau dinaikin? trus ada solusi apa coba?
10 Oktober 2008 at 1:38 pm
semua serba muahaaaaaaaaaaaaaalll… :((