Hari ini (20 Mei) 100 tahun yang lalu berdiri Boedi Oetomo, sebuah organisasi kepemudaan yang bisa menyatukan pemuda-pemuda dari daerah-daerah di nusantara ini. Semenjak itu, bangsa ini seperti menemukan spirit perjuangan untuk bangkit. Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari kehinaan dan yang pasti, bangkit melawan penjajahan. Berikutnya, 20 tahun kemudian ( 1928 ) tersebarlah sumpah pemuda. Sebuah ikrar pemuda Indonesia yang menyatakan bahwa kita (para pemuda khususnya) harus mengaku berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu, INDONESIA.

Kini, seabad sudah peristiwa tersebut. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Peristiwa 100 tahun yang lalu tidak begitu saja dilupakan. Peristiwa tersebut menjadi semangat untuk kembali meraih kejayaan di tengah krisis multi-dimensi yang melanda Indonesia 10 tahun terakhir.

Setelah 100 tahun kebangkitan nasional tersebut, apakah kondisi kita sekarang sudah benar-benar bangkit? Itu sebuah pertanyaan yang harus kita cari jawabannya sendiri-sendiri dan juga bersama-sama. Lho kok gitu? Iya, karena kita harus diskusikan dan juga aplikasikan.Jangan cuma diskusi saja.

Tahun ini, momen kebangkitan nasional juga berada di tahun yang sama dengan 10 tahun reformasi. Keduanya merupakan momen penting bagi bangsa ini, yang tidak boleh dilupakan sepanjang sejarah bangsa. Selain kebangkitan nasional, reformasi juga disebut-sebut sebagai momentum kembalinya kemerdekaan bangsa setelah lebih dari 30 tahun dikekang oleh orde baru.

Kondisi sekarang ini, kita bisa menilai sendiri. Sudah seberapa bangkit bangsa ini?

Pemberantasan korupsi (yang merupakan spirit reformasi), sudah sejauh apa?
Kemakmuran rakyat dan ketersediaan lapangan kerja, sudah seluas apa?
Pendidikan murah dan berkualitas, sudah setinggi apa?
Kesehatan, Perlindungan, dsb. sudah bangkit menjadi seperti apa?

Wes, bagiku sekarang ini bukan lagi jamannya berdebat. Tapi sekarang ini jamannya memperbaiki akhlak.

Yang jadi aparat penegak hukum, jadilah aparat penegak hukum yang garang dan jujur. Yang jadi guru dan pendidik, didiklah murid-muridmu untuk menjadi lebih baik. Yang jadi ibu, didiklah putra-putrimu agar nanti jadi orang yang bermanfaat. de es be.

Lha yang jadi penjahat, koruptor, mafia peradilan, lan sak liyo liyane. Cepet tobat! Mumpung nyawa masih ada diragamu. Ngko lek koen wes ketam, Mlebu neroko lek koen rung tobat.

AYO BANGKIT! KITA BISA!


  1. Wempi

    Semoga pada momen 100 tahun kebangkitan nasional ini pemerintah introspeksi diri, dan lebih penting lagi rakyat nya per individu juga introspeksi diri apa yang telah kita berikan kepada bangsa selama kita hidup di indonesia tercinta ini. mari berbuat, mari bangkit.

  2. galih

    kalau aku, introspeksi diri sendiri dulu :)

  3. indra1082

    BANGKIT INDONESIA!
    MAJU INDONESIA!
    JAYA INDONESIA!
    HIDUP INDONESIA!

  4. aLe

    Jayalah Indonesia!™ ku

  5. sluman slumun slamet

    semoga seabad kebangkitan nasional bukan berarti seabad penderitaan rakyat….
    revolusi bisa dimulai dari ujung pena (keyboard)!!!
    :D

  6. AngelNdutz

    En-Do-Ne-Sa dung dung dung dung!!!!!!!!

  1. 1 BangOne: Tragedi Subsidi « TOSERBLOG

    [...] tengah semangat seabad kebangkitan nasional ini, rasanya rakyat dibuat tidak berdaya lagi. Persis dengan kondisi 100 tahun yang lalu. Kalau 100 [...]



Leave a Comment